Michelle terbangun pada suatu pagi, mengerjap, sekelilingnya gelap. Dia mengucek matanya, menyibak selimut, mencari-cari pegangan, keluar dari kamar, tapi sekelilingnya masih saja gelap. Pikirnya, badai semalam pasti hebat sekali sampai masih berlangsung hari ini. Ia menubruk seseorang yang lewat di koridor. Suara lelaki menegurnya. Itu Winston.
‘Winston, kenapa semuanya gelap? Ada apa ini?’
‘Apa yang kau bicarakan?’ tanya Winston bingung, mengerenyit melihat adiknya meraba-raba udara kosong.
‘Aku… tidak… melihat apapun.’
Padahal telinganya mendengar burung-burung berkicau, deru kereta kuda di luar. Udara pagi bercampur bilasan sinar matahari menerpa kulitnya. Hidungnya mencium bau kopi dan roti. Semuanya hidup, semuanya nampak, tapi dia tak melihat apapun selain warna hitam gelap seolah kain tak terlihat membebat matanya yang berwarna biru. Michelle, 11 tahun, tiba-tiba saja buta hari itu.
***
Ayah dan ibu tentu saja khawatir, juga sedih. Mereka membawa Michelle ke rumah sakit manapun di kota, tapi semua dokter menggelengkan kepala dengan bingung ketika memeriksa mata Michelle. Meskipun ayah menjanjikan uang sebanyak apapun, mata Michelle tidak bisa sembuh. Semua memberikan kesaksian yang sama: ‘Matanya sesehat kuda perawan, Tuan, tidak ada satu bagian pun yang rusak, dan gadis itu tidak pernah mengeluhkan sakit apapun, tidakkah?’ Mereka bahkan mulai memberikan kemungkinan yang kurang ajar. Katanya, Michelle pura-pura buta supaya diperhatikan oleh kedua orang tuanya yang selama ini sibuk! Dan hebatnya, ibu sempat percaya, sambil menangis menyuruh Michelle berhenti berpura-pura ‘bermain buta’.
Michelle menangis sejadi-jadinya, meraung, “Aku bahkan tidak bisa lagi membedakan mana pita hari Mingguku dan pita untuk Paola!” Paola nama kucingnya. Michelle menyayangi hiasan-hiasan rambutnya dengan sangat sehingga itulah yang terbersit di kepala sebelas tahunnya. Selanjutnya, Michelle tidak terlalu banyak bicara. Tidak juga pada Winston. Atau Sienna. Atau ayah dan ibunya, dan menolak setiap nampan kue yang disodorkan pelayannya kepadanya, padahal biasanya ia begitu suka yang manis-manis.
Tapi, ia mau bicara pada Mikhail. Mikhail datang ke rumah ini ketika Michelle berusia tiga, dan kendatipun mereka tidak sedarah, ia harus memanggilnya kakak. Mikhail tidak murah senyum (…palsu…) seperti Sienna, tapi lebih hangat. Padahal dia juga tidak memiliki mata buah wallnut seperti Winston—warna coklat sering dikatakan warna yang hangat, tapi Winston hanya belajar, belajar, belajar, dan belajar.
Mikhail suka pada hewan. Mikhail mengajarkannya mengetuk-ngetuk biji walnut di kaki pohon spruce agar anak tupai merangkak turun dari lubangnya. Kemudian ia juga tahu kalau timbunan jerami di bawah istal sering dikerubuti kelinci liar; caranya dengan menghentak kaki di dekatnya beberapa kali. Ia menemukan dua butir telur merpati di atas pohon poplar, di balkon menara tempat ayah biasa membaca dulu ketika belum sibuk. Rumah Michelle memang besar, dengan empat menara tinggi. Ketika Sienna kecil dan membaca buku dongeng, ia ingin kamar di atas menara. Jadi ayah membuatnya. Empat sekalian, dengan pintu rahasia yang bisa terhubung di bawah tangga, loteng, atap katakombe, bahkan pintu di dalam pintu. Ayah melakukan apapun untuk Sienna, putri sulungnya.
Michelle sedih ketika tahu bahwa dua telur yang menetas di atas pohon poplar itu kini sudah menjadi besar, dan meski bentuk tubuh mereka merpati, bulunya hijau. Ia sudah dua tahun menjadi buta. Ia duduk di kursi malas, menatap (oh, membayangngkan…) Mikhail yang pendiam mengulurkan tangan ke arah pohon poplar, bersiul dengan nada-nada yang familiar di telinganya, dan burung itu pun hinggap di tangannya. Kadang satu-dua bulunya rontok. Dua pasang burung menikah, beranak lagi, menjadi dua puluh. Balkon itu lama-lama menjadi sarang sekawanan burung.
“Anaknya juga hijau?” tanya Michelle sambil menghadap Mikhail, meski matanya kosong. Tangannya terulur, ingin pegang. Mikhail mengulurkan burung di tangannya dan Michelle mengelus sayapnya yang halus; burung itu jinak.
“Cokelat. Hanya satu dari empat telur yang hijau.” kata Mikhail. Suaranya selalu tenang dan tegas.
“Paruhnya?”
“Coklat—merah saga. Matanya hitam.”
“Seperti kancing?”
“Seperti kancing, ya…”
Flap, flap, suara kepak sayapnya banyak sekali. Berisik. “Cantikkah?”
“Yah…”
“Gambarkan, gambarkan padaku.”
Mikhail punya suara yang enak ketika bercerita. “Seperti deskripsi malaikat yang turun.” paparnya pelan. “Ini malam, kau tahu kan?”
“Ya, udaranya dingin.”
“Bulannya seperti… kue sachertorte dengan terlalu banyak mentega.”
Michelle menggigil oleh tawa. “Bulat dan enak sekali, ya?”
“Iya. Lalu…”
Ada suara jam besar berdentangan. Lonceng katedral dekat situ berisik, keras sekali. Dan meski ia buta, Michelle bisa merasakan panas cahaya menjalari kulitnya. Ia kebingungan, penuh tanya, burung di tangan Mikhail mengepak terbang tinggi bersama kawanannya yang lain. Kiranya mereka terkejut oleh sesuatu. Flap, flap. Dia bisa merasai bulu-bulu jatuh mengenai kulitnya bersama dengan rontokan daun prunus. Mikhail melanjutkan. “…yang ini sulit diceritakan.”
“Apa?”
“Burung-burungnya kaget.”
“Aku bisa merasakan.”
“Ada api raksasa di langit.”
“….?”
“Bentuknya wajah.”
“Itu SETAN!”
“Ha?”
“Setan, Mikhail, ini tanggal berapa?”
“Dua puluh dua…”
“Cuma ada delapan tahun sekali. Astaga! Ceritakan, ceritakan lebih banyak.” pekik gadis itu.
“Di bawah sana kota, dan semuanya gelap. Lampunya mati. Dari tiap rumah ada orang yang menerbangkan semacam lentera kekuningan, menyebar di atas langit. Tapi satu yang paling besar berasal dari tengah…”
“…dari lapangan Bastille…”
“Ya, mungkin memang Bastille. Besar sekali, penuh api, terbakar pelan-pelan dari ujung rambutnya; mukanya berjenggot. Angin meniupinya pelan-pelan, kurasa setelah sampai ke bulan, baru berhenti.”
Ia bisa mendengar musik, meski samar. Michelle juga. Malam itu damai. Michelle tahu di sudut kota ada yang menari, semua lilin di gereja disulut, dan sebagian bernyanyi. Ini festival delapan tahun sekali yang ada untuk membuang sial; setan yang konon merasuki Joan of Arc dan menjadikannya jiwa yang tak lagi suci sehingga Perancis menghukumnya. Ia beruntung punya rumah tertinggi di kota ini. Andai dia bisa melongok, dan melihat, mungkin akan dilihatnya rambut pirang-Rapunzel Sienna mengintip dari menara kiri, memangku Paola dan melihat ke arah langit pula. Atau Winston di menara lain, kacamatanya melorot. Tapi yang ia lihat hanya gelap. Yang bisa dia saksikan hanya imajinasi.
Kepakan sayap burung masih terasa di sekitarnya. Dia menggamit baju Mikhail, lagi.
“Kenapa aku buta?”
Mikhail terdiam. “Tidak tahu.”
“Aku tidak bisa melihat hal yang…” dia menggigit bibirnya, terisak, “…mestinya begitu indah. Aku ingin melihat…. ingin melihat…”
“…”
“Kenapa…?”
“Mungkin suatu saat kau akan tahu.”
Mikhail menyeka sehelai bulu merpati di bahu adik perempuannya. “Some things… aren’t meant to be seen. Maybe.”
Midsummer. Bulu burung. Harum semak buah beri dan pemandangan api raksasa di langit. Ia tertunduk, pilu.
***
Berbelas-belas, berpuluh tahun kemudian, rumah itu tak lagi berpenghuni. Si pemilik rumah tak mau mengurus tapi juga tak mau menjualnya, jadi rumah itu bukan milik sipil, bukan pula negara. Semak berries makanan merpati tumbuh liar. Paola si kucing menikah dengan pejantan kampung dan keturunannya bercinta di bawah bekas-bekas ranjang, pohon-pohon, berguling di atas kerak lumut, menggodai merpati piaraan Michelle yang kini sudah ratusan jumlahnya. Dulu sering ada anak yang masuk untuk uji nyali, tapi lalu mundur satu-satu sejak mereka, katanya, merasa mendengar ada yang bicara di telinga mereka dan memeluk dari belakang, semacam itu.
Michelle Donovan masih hidup, dipindahkan ke rumah sakit cacat jiwa. Sienna, Winston, dan Mikhail konon tidak pernah ada, karena Michelle anak tunggal, dan orang tuanya sudah lama mati ketika ia berusia empat karena kecelakaan. Mereka menemukan boneka perempuan pirang berambut amat panjang dan laki-laki yang memakai kacamata di ranjang Michelle, tapi ‘Mikhail’ yang disebutnya berkali-kali tidak pernah ketahuan identitasnya.
Dan rumah itu, konon, kata penduduk sekitar, dulu dibangun dalam satu hari.
Jadi…?
_________________________
Yaaaa, ini draft cerita yang gw bikin pas SMP -///-3 belum tamat kok. Cuma penggambaran doang. Fact-nya entar kalau udah beli keyboard. Bakal jadi cerita psikologis sih kayaknya, tapi ayolah. #Fictionception, lololol.