Parenting Problems?

Ngebaca link yang dikasih Rae soal cara ngebesarin anak-anak Asian yang langganan jadi pionir di post-post 9gag, gue jawdropped. Lawas sih, dulu udah pernah baca, tapi gue reread, dan tetep aja amazed. Iya, sepupu gue juga banyak yang Pecinan, tapi enggak sebegitunya, lah. Hal-hal yang tertulis di sana terkesan sangat nggak manusiawi buat gue yang biasa dimanja mageritas. Dan gue teringat manga-manga shonen yang menggambarkan jagoan bermasalalukelam… gak pernah main… atau tersenyum… Sasuke Uchiha-liek, lah. Kelu. Kelu sekali.

Buat gue yang cuma ngeliat, opkors.

Tapi gue jadi mikir; mereka di posisi mereka, anak-anak itu, ngerasa tersiksa nggak ya? Adakah masanya ngeliat ke anak-anak bebas yang lagi main kasti di lapangan terus pengen ikutan tapi inget petuah orangtua, lalu tersenyum sedih; berlalu dan melupakannya di bawah bayang-bayang matahari senja nan galau kayak di manga-manga? Atau simply pasrah dan mikir “Man, this is the REAL life in a RIGHT line and thwere all bunches of phail-garbages I won’t be dealing with.”? Buat gue mungkin kasihan, tapi mereka, mungkin banget juga, nggak mau dikasihani.

True. Buat apa kasihan sama violinis tenar atau langganan juara kelas? Bukankah kita sebaiknya punya waktu untuk mengasihani diri yang sampai umur segini masih stuck, langganan remed, gagal skripsi, ngulang semester, dan sejenis-sejenis itu?

Mungkin memang ada ‘harga’ tertentu buat waktu yang dibuang. Untuk anak Asian yang ekstrim; kasti, ekstrakurikuler keren, TV, tumblr, party, dan game online, untuk trofi dan—masa depan yang MUNGKIN BANGET cerah. Sementara gue, anak normal, dapatlah ketidakpastian hidup untuk bayaran dari mageritas tak berbatas yang bisa didapat now-and-then. Keduanya adil, ya kan?

Ah, life.

Dan—apa? Cara orang tua gue mendidik gue? Lain kali, deh. Agak panjang ceritanya.

Posted 3 months ago with ❤ 4 notes Tagged : #Racau
  1. isis-obrien reblogged this from kinghatter
  2. bigiswanderpul reblogged this from kinghatter
  3. kinghatter posted this
blog comments powered by Disqus