Dan kau menerimaku di rumahmu dengan sambutan hangat dan cangkir teh serta toples biskuit. Di malam hari ini, di bawah kanopi teras yang melindungi kita dari derai hujan, ketika bumi sepi dan lampu-lampu telah dimatikan sebagian, serta banyak dari orang yang biasa ribut di ponsel kita itu, tertidur. Aku berpura-pura membuka perangkat ketik ini mulanya karena aku canggung harus berdua denganmu. Bukan karena benci atau enggan, tapi karena aku tak tahu harus menanggapi bagaimana lagi.
Lama, lama di masa lalu…
Kita membuang masa lalu dan bergerak maju. Nyaris-nyaris aku lupa bahwa kita adalah anak yang sama yang ketika pulang dari sekolah berkejaran di bawah hujan kapas pohon-pohon kapok, memetik buah yang berbentuk stroberi liar di semak-semak dan mendongkol bersama ketika orangtua kita membuangnya dengan dalih itu makanan ular. Kemudian aku juga lupa bahwa aku biasa pergi ke rumahmu di ujung gang demi memunguti kain-kain sisa yang dijahit ibumu—ia penjahit—kemudian membuat gaun-gaun rombeng untuk dipakaikan ke boneka kita. Lalu pada bulan Agustus tanggal tujuh belas kita sama-sama berlomba memasukkan kerupuk terbanyak ke dalam mulut. Kau menang, selalu, dapat satu pak buku tulis dan pena baru. Sementara aku, sudah kalah, dimarahi nenekku pula.
Kau menceritakan padaku bagaimana aku pernah jadi pengkhianat dan mengadu ke guru ketika kau mencontek. Atau mengedarkan buku harianmu hingga sampai ke tangan orang yang diam-diam kau cintai. Dan kau membalasku dengan sepeda yang disiler-silet, tas hilang (sampai sekarang, kau bilang dikubur di kebun pepaya, barusan?!), dan pengucilan beberapa hari. Kau juga cerita, ketika aku masuk SMA yang prestisius, kau menyerah dengan sekolah dan masuk kejuruan.
Lulus dan menjahit, juga, seperti ayah-ibumu.
Gaul dengan tetangga abusif.
Hamil.
Menikah.
Sering dipukuli—ya?
Kau menerimaku. Bayimu tidur. Kau masih dua puluh. Suamimu kerja di Pasar Turi, belum pulang sampai kini. Gurat lelah dan tangis kering. Tertawa. Serak. Aku juga dua puluh, tapi masih ada di titik ini. Masih kasmaran. Hendak kuliah. Belum apa-apa.
Mendadak saja, aku merasa kalah, kalah jauh sekali darimu.