Solehah

Saya dulu tidak percaya orang yang muslim betul-betulan itu ada. Apalagi perempuan. Di lingkungan saya, kerudung adalah fashion, agama itu tren, orang bisa mengumpat-umpat dalam glosarium lacur sembari pakai mukenah. Sampai, saya masuk SMP, kelas IX, ketemu anak yang namanya Solehah. Jujur, belakangan saya hidup dengan orientasi ‘present’ dan ‘future’ jadi rasanya… saya agak-agak banyak membuang manusia dari masa lalu. But pray tell me, kenapa semalam saya mimpiin dia?

Anak perempuan yang merekatkan badge seragamnya dengan staples. Yes.

Lamongan 2006 masihlah suatu kota muslim dimana bahkan di sekolah yang seragamnya normal, beberapa siswi santri memakai jilbab dan pakaian panjang untuk menjaga—virtue. Saya bukan mengecam, tapi tahu, kalau sebagian besar mengenakan kerudung itu hanya karena orang tuanya haji, atau karena rambutnya gagal-rebonding, tangannya berbulu, punya catu (semacam tanpa lahir yang jelek), begitulah. Lebih dari sekali berhembus kabar sedap soal anak pemakai kerudung yang dengan suka hati malah buka baju di depan sekelompok anak laki-laki di ruang UKS. Dan macam-macam itu.

Dengan keadaan yang seperti ini, kepercayaan pada jilbab, otak 15 tahun saya berpikir, terasa muspra alias sia-sia. Sampai saya bertemu anak yang satu ini. Naik ke kelas sembilan dan mendengar namanya dibacakan oleh wali kelas, satu kata saja: Solehah. Saya ini arogan—saya pikir nama itu kampung. Lirik ke si empunya nama, anaknya terasa… biasa. Bajunya lengan panjang, rok panjang, kerudung yang lusuh. Ia tidak beraroma parfum apapun dan tasnya Alto kodian hitam. Kulitnya putih, luar biasa putih dan bersih, tapi matanya seperti panda. Ada hitam membayang di bawah matanya, seperti penderita leukemia.

Pada satu kesempatan, saya terpaksa satu kelompok dengannya dan melihat badge XI E di lengan seragamnya tergantung layu. Niat saya baik, saya sentuh, hendak mengingatkan bahwa jahitannya lepas. Tapi saya terperanjat begitu tahu bahwa badge itu bahkan tidak dijahit. Tapi di-staples.

Tahu kan, alat yang digunakan untuk menyatukan kertas-kertas itu?

Saya… swt, banget. Waktu 15 tahun, mulut saya tak berfilter. Saya bilang padanya—sesuatu yang terdengar menghina. Kalau tidak salah, “Gak niat amat sih, di-staples? Jadi orang males bener. Orangtuamu kemana deh?”

Dan saya ingat dia hanya tersenyum. Senyum dan terus bekerja menggambari diagram biologi kami. Seterusnya, kami tak banyak bicara, tapi saya… penasaran.

Ia menduduki peringat kelima di kelas; tidak bagus, tidak juga jelek. Jarang jajan di kantin, uang sakunya saya pernah lihat ketika dia keluarkan dari saku cuma lembaran seribu lima ratus. Ketika seisi kelas kebanyakan mengobrol, dia malah berada di pojokan, bergumam-gumam. Saya kira dia menyanyi. Pernah juga ketika kelas berlangsung, salah satu guru memanggilnya dan menuduhnya bernyanyi. Dihakimi di depan seisi kelas, dan ketika ditanyai “Sampeyan nggremengi opo?” (Kamu menggumamkan apa. –Jawa) ia menjawab,

“Saya mengaji Al-Quran.”

Dan guru itu bertanya, “Hafal?”

Ia mengangguk. Ia diminta melafal di depan kami. Betulan hafal. Guru itu mengayun tangan dan berkata boleh dia mengaji asal tetap peduli pada pelajaran. Yah, di depan agama, kita selalu lumpuh.

Saya tidak kenal betul Solehah. Bicara cuma sesekali. Bahkan sering saya bad-mouthing soal dia—biasa kan, remaja. Belakangan paska lulus saya baru tahu dia hidup di pondok pesantren. Mengaji tiap malam hingga pagi, maka matanya hitam. Ayahnya telah meninggal, ibunya sibuk jadi buruh tani, dan dia punya adik, karenanya dia seolah tak punya waktu untuk diri sendiri. Hidup Solehah seperti didedikasikan pada hidup  keluarga dan Allah.

Semalam saya memimpikan dia. Ketemu di jalan, sedang membaca buku. Tak jelas. Iseng-iseng tanya teman SMA, Solehah sekarang dimana, katanya dinikah juragan nener (anakan ikan Bandeng).

Tak tahu lagilah. Cuma selintas pandang, tapi kepikiran begini. Pernah naksir, maybe?

Posted 4 months ago with ❤ 8 notes Tagged : #life#RW#SMP
  1. adrianelinerush said: ketemu juga nih bahan galauan…………….. (ninja)
  2. kinghatter posted this
blog comments powered by Disqus