Tentang Hujan

Mendefinisikan hujan sebagai sarana bercuci hati, mata, dan tubuh sekalian kalau sedang ingin bolos sekolah esok harinya, semua sah-sah saja. Kita melihat selokan yang meluber-luber penuh sampah plastik, bangkai cecurut, dan remahan kue yang tidak habis dimakan menguarkan aroma kuat; bercampur dengan serakan daun-daun penghias jalan—mungkin mahogani—derum mobil dan motor dengan knalpot yang terbatuk mengepulkan asap pekat beraroma khas. 

Payung-payung dijeblak terbuka. Karnaval jas hujan mulai dari yang berbahan plastik betul hingga kulit binatang. Riuh.

Tentang para penjual es (oyen, campur, kelapa, cendol, batu, semua sajalah) yang mendadak tertekuk mukanya, senyum selibat mereka seolah bertukar dengan racau-keluh mereka yang menghadapi penggorengan panas berminyak-minyak dan ketel-ketel kopi mendidih—bakal doping para tukang becak dan angkot yang masuk ke warung sambil mengocok kartu domino dan berkerudung sarung hadiah tahlilan. Anak-anak kecil yang baru pulang sekolah menahan ransel di bahu, melompat-lompat katak menghindari genangan air. Yang lebih kaya memerhatikan dari bibir jendela mobil; ibunya mencibir dan mengoceh mengenai bakteria. Tentang matahari yang sembunyi di balik awan dan daun-daun pakis terbasuh air, visualnya seolah, menangis. 

Tentang kehidupan di hari hujan—seandainya bisa pula kita deskripsikan cacing-cacing yang keluar dari tanah dan berapa pupa kupu-kupu yang melempam paska hujan begini. Tentang berapa orang di dalam rumah kardus di bawah jembatan yang menggigil kedinginan. Tentang kekasih malang yang mendadak terangsang untuk mengiris nadi, tentang para seniman yang terinspirasi, tentang hanyutnya seseorang di kali karena banjir bandang, tentang sapi dan kambing yang kawin dibelakang sawah…

Tentang hujan, begini kaya hal yang bisa direnungi.



Posted 4 months ago with ❤ 4 notes Tagged : #random#nganggur amat gue
  1. grnstrngr said: bikin galau juga biasanya =)) *shot*
  2. kinghatter posted this
blog comments powered by Disqus