Palem Raja

Bahkan semenjak saya masih kecil sekali, mereka sudah berdiri tegak; ajeg di halaman rumah serupa identitas tak langsung. Kalau naik becak atau angkot ke rumah kakek, mudah saja bilang ke abangnya, “Berhentinya di rumah yang ada pohon palem kembarnya itu, yang buesar.”—dan mereka akan langsung mengerti. Tidak banyak orang yang punya pohon palem raja di kota kami. Bahkan secara sombong, boleh saya berkata, yang punya hanya rumah kakek dan pendopo kediaman bupati.

Saya ini anak Jawa. Tulen. Mudah mengait-ngaitkan sesuatu. Menginterpretasikan sesuatu sebagai firasat… maka saya pikir, pohon palem itu, mirip kakek dan nenek saya.

Palem yang kanan besar, gagah, mirip kakek. Palem yang kiri sedikit mungil, tapi kalau sudah musim bunga, semerbaknya hebat. Halaman penuh bunga palma berwarna magenta. Harumnya mengundang lebah, atau kupu-kupu berwarna-warni. Di musim buah, buahnya yang kecil-kecil mirip kacang pistachio terhampar menyelimuti tanah; membuat rumah nenek jadi kesayangan anak-anak kampung yang senang bermain ‘pasaran’. Atau bikin mahkota-mahkotaan.

Rumah kakek besar, dan selalu semarak. Sebetapapun jauhnya om, tante, dan orangtua saya sendiri berdomisili, rumah ini adalah tempat berpulang. Kedua pohon palem yang menjadi identitas itu konon ditanam oleh kakek tepat ketika rumah itu selesai dibangun. Maka teorinya, kedua pohon itu sudah seumur perkawinan kakek dan nenek: 50 tahun.

Kalau, mereka masih hidup.

Pohon palem lelaki tumbang empat tahun lalu, tepat sebulan sebelum kakek meninggal karena kanker prostat. Empat tahun sesudahnya palem yang wanita berdiri sendiri—bertahan meskipun bunganya tak lagi lebat dan batangnya mulai dimamah rayap. Tiga minggu yang lalu, palem itu akhirnya tidak kuat, dan rubuh, dengan bantuan sambaran kilat dan cuaca yang makin tidak menentu. Saat itu ada sesuatu yang berdengung di nalar saya. Semacam peringatan sunyi. Lalu, benar saja.

Dua malam lalu, Nenek saya meninggal. Tak ada keluhan penyakit sebelumnya. Begitu saja; tenang, damai. Mengejutkan? Sangat.

Saya ingat sedang berjalan ke Stasiun Semut ketika ponsel berdering dan Mama menelepon. “Pulang. Mbah Putri meninggal.”—dan saya sempat membantah karena saya sudah bulat tekad hendak ke Jakarta. Papa merebut telepon dan mengatakan sesuatu yang sesaat membuat saya terdiam (ia—mengumpat, hal yang jarang), sehingga dengan transportasi pertama yang saya temukan saya pulang ke Lamongan.

Semua terasa asing. Halaman yang kini gundul tanpa dua palem raja. Orang-orang menangis. Suara orang mengaji tanpa henti di antara derum klakson dan mesin mobil para pelayat yang datang bergantian; runtut seperti tubuh kaki seribu. Dan saya melihat perempuan yang dulu memangku dan menembang untuk saya terbujur dilingkupi kain. Déjà vu, seperti bertahun lalu ketika saya diminta untuk mengecup jasad kakek di dahi sebagai tanda penghormatan terakhir.

Saya tidak melakukan apa-apa. Menolak mendekat. Lalai menangis. Duduk di kebun belimbing dan mengingat-ingat… semuanya.

Nenek. Nenek yang mengaku tidak pernah mencintai kakek namun seringkali menangisinya dalam diam. Nenek yang sering menyombong ia bisa menikahi laki-laki yang lebih ‘maha’ kalau saja tidak dijodohkan orang tua. Tapi dia juga sering membanggakan hadiah-hadiah kecil yang dibelikan kakek (gelang, cincin, kalung, buku, kipas, jarit) sebagai kejutan. Bukan ulang tahun pernikahan, bukan tanggal pasaran, tapi kakek saya yang romantis itu, memang begitu. Memuja.

Mereka bahagia, tho. Perempuan yang berharga diri tinggi dan laki-laki yang arogan (ini sulit dipungkiri; kakek saya lumayan berkedudukan soalnya).

Satu hari yang paling saya ingat adalah palem lelaki, akarnya menyelingkat, sedikit condong ke palem perempuan. Karena pada saat kecil saya sering dititipkan, saya ingat adegan pada suatu hari ketika saya bermain di taman samping, dekat dengan jendela kamar kakek dan nenek. Saya mendengar suara lelaki menangis, dan mengintip ke jendela.

Hasil CT-Scan Rontgen kanker terserak di ranjang dan lantai. Kakek saya yang berbadan besar menangis di leher nenek, tangannya tergenggam oleh tangan istrinya. Dialognya bisu, lirih;

“Dek…”

“Ora opo-opo, Pak. Ora opo-opo…”

“Dek…”

Bahwa pria sekokoh kakek bisa menangis. Bahwa, satu-satunya tempat dia bisa menjadi lemah mungkin hanya kepada nenek. Bahwa rumah besar yang tidak lagi punya sepasang palem raja itu kini hanya memiliki pagar hitam dan semak bunga ashoka kuning sebagai identitasnya.

Bahwa saya, sebagai cucu, hanya bisa mengenang semuanya sebagai sesuatu yang… baik. 

Posted 4 months ago with ❤ 10 notes Tagged : #Life#RW#Kakek#Nenek#Kalender Biologis.
  1. kinghatter posted this
blog comments powered by Disqus